Bocah Pengemis Berkedok Penjual Tisu, KPPAD Bali Ungkap Ada Mengemis Menurun dari Kakek Hingga Cucu

Foto: Satpol PP Kota Denpasar mengamankan ibu-ibu dan bocah pengemis berkedok penjual tisu.
322 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Hal mengejutkan terkuak dari maraknya anak-anak (bocah) pengemis berkedok penjual tisu yang beroperasi di beberapa titik di Kota Denpasar. Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali mengungkap, fenomena menjadi pengemis itu ternyata ada yang hingga tiga generasi. Menurun dari kakek hingga ke cucunya.

“Jadi kakeknya mengemis turun ke jalan, kemudian anaknya, dan kini cucunya,” ungkap Ketua KPPAD Provinsi Bali, Anak Agung Sagung Anie Asmoro seusai rapat koordinasi dengan Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) Bali dan Satpol PP Bali menyikapi maraknya anak-anak pengemis berkedok penjual tisu, di Kantor DPRD Bali, Selasa (29/6).

Anie Asmoro juga mengungkap, dari hasil penelusurannya pengemis anak-anak itu juga ada yang ditarget. Jika tidak menyetorkan Rp200 – Rp300 ribu per hari ada hukuman bagi mereka. “Terlepas dari rasa iba kita, sebaiknya jangan memberi ataupun membeli dagangan mereka. Itu akan mengurangi aktivitas mereka di jalan,” ungkapnya.

Dikatakan, para orang tua mereka jika dari keluarga kurang mampu tentu sudah skema dari pemerintah berupa bantuan-bantuan yang selama ini sudah berjalan. “Ini merupakan masalah kita bersama. Untuk itu, saya harap ada peraturan atau pararem desa adat. Jika mereka mengemis maka ada sanksi, sehingga ini ada efek jera,” harapnya.

Foto: Rapat Koordinasi Kaukus Perempuan Parlemen Bali dengan KPPAD dan Satpol PP Bali di DPRD Bali, Selasa (29/6).

Ketua KPP Bali, Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi Wedasteraputri Suyasa mengatakan, pihaknya mengundang Satpol PP dan KPPAD untuk mengetahui kondisi riil di lapangan maraknya pengemis anak-anak terindikasi eksploitasi anak.

“Informasi yang kami dapat, pengemis anak-anak marak di Badung dan Denpasar. Kendati demikian, kami harus memegang data, sehingga kami harap Pol PP agar mendata. Pol PP Kabupaten/Kota mungkin memiliki data karena mereka sering melakukan sidak,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini para pengemis setelah diamankan, dibina, dan setelah keluar kembali lagi menjalani profesinya. “Kami akan membuat skema agar ada efek jera. Di Bali ini fenomena pengemis anak-anak itu punya keluarga dan orang tua. Berbeda dengan dari luar Bali yang mungkin tidak punya keluarga,” jelasnya.

Terlebih dahulu, lanjut dia, akan didata semuanya, sehingga memudahkan memotong dari sumbernya. Pihaknya berharap, fenomena ini juga jangan sampai menyebar ke daerah lain, sehingga sebagai Kaukus yang konsen terhadap permasalahan perempuan dan anak akan terus mengantensinya.

“Kami tahu bahwa Pol PP kekurangan personel. Ini akan kami kaji terlebih dahulu, termasuk juga akan melibatkan pihak kepolisian, pecalang hingga Linmas. Saya juga melihat dari segi anggaran juga masih kurang. Ini akan kami kaji dulu,” katanya.

Melihat anak-anak itu masih duduk sekolah, lanjut dia, pihaknya juga akan menggandeng lembaga pendidikan. “Guru wali mengetahui jika muridnya ada perubahan. Ajak bicara, apakah mereka terjadi tekanan? Dengan pendekatan itu, anak-anak biasanya jujur mengakuinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Denpasar, Dewa Anom Sayoga mengaku sudah kerapkali menertibkan anak-anak ini. Pihaknya pun tak menampik, para pengemis ini kucing-kucingan. Di tertibkan di tempat lain, namun muncul di lokasi lain.

“Kami juga kerjasama dengan Pol PP Kabupaten lain. Jika para pengemis mangkal di Batubulan, kami kerjasama dengan Gianyar,” ujarnya melalui sambungan telepon kepada POS BALI.

Dikatakan, pihaknya juga menurunkan petugas berpakaian preman untuk mengawasi aktivitas anak-anak tersebut. Jika ditemukan, maka pihaknya langsung mengamankannya. “Kami sedang mengejar siapa dalang? Siapa yang mengeksploitasi itu? Termasuk juga dugaan ada yang mengkoordinir, kami sedang mendalaminya. Dan juga siapa yang antar jemput,” jelasnya.

Sayoga juga menjelaskan, lintas instansi juga diajak bekerjasama untuk menyikapi fenomena ini. Bahkan, guru-guru SD di mana mereka mengaku bersekolah juga dilibatkan.

“Karena masih di bawah umur, maka sebagai efek jera kami bekerjasama dengan Yayasan Lentera Bali untuk membinanya, termasuk juga Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Jadi modusnya anak-anak jual tisu atau mengasong menjual pernak-pernik sambil mengemis. Itu juga sudah kami tangani juga. Kami rutin kok menangani, tapi mereka juga ada pengawas, sehingga jika ada petugas yang datang, mereka keburu lari,” pungkasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.