Bidik Emas PON Papua, Dua Crosser Bali MX Siap Persembahkan Terbaik

Foto: Dua Crosser Diva dan Adit di Markas Bali MX, Jalan Drupadi, Denpasar.
359 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Sederhana namun penuh makna tampak jelas saat keberangkatan Tim Motocross Bali menuju PON Papua. Tak ada seremonial khusus. Keberangkatan tim hanya dilakukan dengan foto bersama di Markas Bali MX, Jalan Drupadi, Denpasar, Minggu (3/10) siang.

Syukur, keberangkatan tim ini dihadiri Kasatpol PP Provinsi Bali Dewa Rai Dharmadi, didampingi Kabid Trantib I Komang Kusumaedi (IKK), Ketua Bali Rescue, Korwil IMI Badung, Ketua IMI Tabanan, keluarga pembalap dan sahabat yang memberikan semangat kepada tim motocross tersebut.

Tim itu terdiri dari sembilan orang, yakni dua atlet, official, pelatih, keamanan, dan manager. Mereka berangkat dari Bali transit Jakarta, Makassar, Jayapuara, dan Merauke. Tim akan tiba di Papua pada pukul 14.00 WIT.

Dua crosser itu, yakni I Gusti Ngurah Diva Ismaya Tjahjadi (Diva), 20, yang akan turun di kelas MX2 Perorangan dan Beregu, serta I Putu Raditya Permana Putra (Adit) 18, turun di kelas MX2 Beregu. Para crosser menegaskan siap mempersembahkan yang terbaik untuk mengharumkan nama Bali. Mereka bidik emas.

Adit mengaku sudah sangat siap menghadapi kejuaraan di PON Papua. “Saya sudah siap, dan target emas di Papua. Sedangkan untuk lawan terberat itu, hampir semua. Terutama dari Jawa Barat, Papua, Jawa Tengah, dan tim lainnya. Tapi saya optimis mampu mempersembahkan yang terbaik,” ungkap mahasiswa baru Fakultas Teknik di Unud ini.

Untuk persiapan, dia menyiapkan khusus untuk fisik, mental dan beradaptasi di Papua, khususnya sirkuit. Apalagi menggunakan motor lain, yakni KTM.

“Untuk motor tidak jauh beda antar merek. Mungkin di handling beda, beban, mungkin ringanan KTM. Power untuk KTM itu di gigi besar itu lebih kenceng. Itu tes dulu besoknya baru turun balap. ada sehari untuk Latihan dan mencoba sirkuit,” ujarnya.

Sementara Diva, mengaku persiapan fisik dari 2019 selama dua tahun menjaga fisik, mental dan juga kesehatan. “Untuk di atas motor, sudah maksimal sejak setahun belakangan ini dan jelang PON lebih maksimal,” katanya.

Menurutnya, segi motor yang biasanya dia memakai Kawasaki sedangkan PON KTM, tidak ada perbedaan jauh. “Saya sudah pernah menggunakan KTM di 2018, jadi nggak terlalu beda jauh,” ungkapnya.

Pengalaman di Kejurnas dan Pra PON kata dia menjadi modal dalam PON Papua. “Kemarin di Pra Pon itu ada DKI, Papua dan Papua Barat. DKI itu atletnya sekolah di luar negeri,” ujarnya memprediksi kekuatan lawan.

“Target saya sudah pasti emas, saya berusaha semaksimal mungkin,” ujar mahasiswa Prodi Kriya ISI Denpasar yang kini duduk di semester 7.

Manager Tim Motocross Bali, Wayan Adi Dharma Putra mengatakan, persiapan dilakukan secara rutin sejak dua tahun lalu. Karena PON Papua urung dilakukan tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Menurutnya, beberapa cargo untuk persiapan dalam event ini sudah tiba terlebih dahulu di Papua. “Pembalap kami sudah siap 100 persen, dan kami menargetkan yang terbaik. Yakni emas,” ungkapnya.

Dikatakan, lawan terberat dalam event ini masih dari DKI Jakarta untuk kelas perorangan, sedangkan beregu masih sulit. Sebab tidak ada event karena adanya pandemi. Pihaknya memantau kekuatan lawan hanya dari media sosial.

“Pra PON Serang Banten, pembalap kami beregu mendulang emas, di perorangan kita dapat perak. Kedua pembalap kami naik podium. Itu menjadi modal kami,” bebernya.

Pelatih PON Papua, Tjok Ari Wibisana Sudarsana alias Cok Vicky, menuturkan bahwa raihan dua medali di Pra PON menjadi modal para pembalapnya. Selain itu, para pembalap yang terjun di Pra PON itu, juga menjadi lawan para pembalapnya di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Motocross.

“Dua pembalap kami ini merupakan atlet unggulan. Terutama Diva yang juga Juara Asia. Podium di Kuwait, dan Filipina. Sedangkan di Nasional posisinya di Juara II, sedangkan Adit waktu itu masih di grade C,” bebernya.

Cok Vicky tak menampik, dirinya harus mengencangkan ikat pinggang dan menyingsingkan lengan baju dalam menghadapi event empat tahunan ini. Karena, biaya untuk keberangkatan Tim Motocross berbeda dengan cabang olahraga lainnya.

“Kami buka bengkel di sana. Bawa peralatan lengkap, termasuk juga saya harus sewa tempat. Syukur, pihak KONI memberikan bantuan, sehingga mampu menutupi sedikit anggaran yang saya keluarkan. Terus terang saya sudah keluar banyak dana,” tuturnya.

Cok Vicky pun sempat berkelakar. Jika kedua pembalapnya meraih juara, maka dirinya memberi kejutan akan membelikan rumah. “Kita akan belikan rumah, karena selama ini kita sudah buang (jual, red) rumah banyak. Untuk persiapan ini sudah berapa rumah kita buang,” katanya sembari melepas tawa.

“Jujur, dari 2019 hingga sekarang sudah berapa miliar habis. Bukan ratusan juta, tapi miliaran. Karena motocross ini sangat mahal. Bukan pembalapnya yang mahal, tapi alat bantunya yang mahal. Ini tidak bisa dihindari,” ungkapnya.

Menurutnya, itu dia lakukan bukan semata-mata karena ingin mengharumkan nama Bali. Tapi juga karena kecintaannya terhadap olahraga ini, dan Cok Vicky sendiri merupakan pembalap di tahun 1980an.

“Jadi saya mencetak pembalap Bali dari nol hingga juara baik di tingkat nasional hingga internasional,” tandasnya. alt

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.