BI Dorong Digitalisasi Pertanian di Bali

Trisno Nugroho
128 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Potensi pengembangan sektor pertanian di Bali Nusra ke depan masih sangat besar. Namun demikian, sejumlah tantangan juga masih menghadang. Tantangan tersebut dapat dilihat dari aspek faktor produksi, kelembagaan, dan aspek pemasaran. Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, Senin (13/9/2021).

Trisno menjelaskan, dari aspek faktor produksi, teknologi produksi masih rendah dengan kapasitas SDM yang terbatas sehingga produktivias dan nilai tambah pengolahan komoditas belum optimal. Dari aspek kelembagaan, peran kelompok tani juga masih belum optimal baik dari hulu seperti pengawasan praktek bertani yang baik maupun sampai sisi hilir seperti implementasi korporatisasi petani untuk mencapai skala ekonomi, mendapat pembiayaan, dan pasar yang lebih pasti. Aspek pemasaran, yaitu tantangan menuju perdagangan luar negeri (ekspor) yang mencakup hambatan tarif berupa pajak ekspor maupun nontarif seperti persyaratan/sertifikasi dan lain sebagainya yang dikenakan oleh negara pasar.

Dia menjelaskan, guna meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pertanian, diperlukan transformasi pertanian ke arah digitalisasi pertanian (pertanian 4.0). Penerapan digitalisasi pertanian di sisi hulu diharapkan akan mengubah cara bertani, perilaku petani, hingga cara penyediaan input. Penerapan digitalisasi sisi hilir akan memperluas cakupan pasar, efisiensi harga, hingga cara penjualan produk.

“Upaya digitalisasi pertanian ini sudah mulai kita lihat di Indonesia melalui berbagai model dan inovasi seperti pertanian vertikal, pertanian presisi, dan pertanian pintar (smart farming). Di wilayah Bali Nusra sendiri, penerapan pertanian 4.0 masih terbatas. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali tahun 2020, implementasi pertanian digital di Bali Nusra baru terjadi pada sisi hilir yaitu pemanfaatan e-commerce untuk penjualan produk.  Selain itu, implementasi pertanian digital tersebut belum dilakukan secara end to end,” tutur Trisno.

Trisno Nugroho mengungkapkan, secara umum terdapat kemiripan di mana sektor pertanian menjadi salah satu penopang perekonomian di masing-masing provinsi. Selain itu, sektor pertanian di Bali Nusra saling terkoneksi dan terintegrasi secara unik sehingga menjadikan Bali Nusra sebagai suatu wilayah yang memiliki ketahanan ekonomi yang tinggi.

“Di NTB dan NTT, lapangan usaha pertanian menjadi penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan pangsa masing-masing 23% dan 29% pada tahun 2020. Sementara itu, di Bali, lapangan usaha pertanian memiliki pangsa 15% terhadap PDRB tahun 2020, terbesar kedua setelah lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan-minum,” ungkapnya.

Apabila dilihat lebih rinci, struktur PDRB Bali Nusra untuk lapangan usaha pertanian terutama ditopang oleh peternakan dengan pangsa 28%, tanaman pangan (26%), perikanan (24%), tanaman hortikultura (11%) serta tanaman perkebunan (8%). “Tingginya kontribusi sektor pertanian dalam ekonomi Bali Nusra menunjukkan bahwa lapangan usaha pertanian memiliki potensi sebagai pendorong pemulihan ekonomi Bali Nusra,” jelas Trisno.

Pentingnya peranan lapangan usaha pertanian dalam ekonomi Bali Nusra juga tergambar dari penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Di Bali, 23% penduduk bekerja di sektor pertanian, sedangkan di NTB dan NTT, pekerja di sektor pertanian masing-masing sebesar 35% dan 54%.

“Saat ini, sektor pertanian memiliki peranan yang lebih penting yaitu menyerap tenaga kerja dari sektor industri dan sektor jasa yang kehilangan pekerjaan akibat terkena dampak pandemi Covid-19,” paparnya. 016

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.