Beri Modal Usaha, Berdayakan Penyintas Autoimun di Bali

Foto: (kiri kanan) Dwi Prihandini dan Firda Athira dan Marizsa Cardoba
Foto: (kiri kanan) Dwi Prihandini dan Firda Athira dan Marizsa Cardoba
744 Melihat

MANGUPURA, POS BALI– Dukungan terhadap penderita autoimun sangat penting dilakukan. Selain dukungan hidup sehat, yang tak kalah penting adalah pemberdayaan secara ekonomi, agar mereka tidak terus terpuruk. 

Autoimun adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh (sistem imun) menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. 

Namun, pada seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Tak mudah mengobati penyakit ini. Hingga saat ini belum ada obatnya. Yang bisa dilakukan adalah membiasakan pola hidup dan pola makan yang sehat 

Clerry dan Cleffy Institute, bersinergi dengan Firda Athira Foundation dan Marizsa Cardoba Foundation terpanggil untuk melakukan pemberdayaan ekonomi kepada penyintas autoimun. Pada Minggu (30/6), ketiga lembaga ini memberikan pelatihan kewirausahaan dab modal usaha bagi penyandang autoimun. 

Kegiatan bertajuk “Autoimun Berbagi Bahagia dengan Sahabat Autoimun di Bali, ini laksankan di Gapet Garden, Kerobokan, Kabupaten Badung. “Kegiatan ini untuk memberi dukungan kepada penyintas autoimun yang marginal baik anak-anak dan perempuan. Kita berikan bantuan usaha, pelatihan dan pemberdayaan ekonomi kreatif,” kata Direktur Clerry dan Cleffy Institute, Dwi Prihandini.

Psikologi Perdamaian yang juga Inspirator Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI mengatakan, penyintas autoimun tidak boleh terpuruk. Mereka harus bangkit dan menjadi inspirasi bagi yang lain. “Harapan saya mereka dapat menjadi inspirasi bagi penyintas autoimun lainnya sehingga yang lain bisa bangkit dan berdaya,” ujar Dwi Prihandini.

Ia melanjutkan, kegiatan serupa akan dilakukan di daerah lainnya. Untuk tahun ini, selain di Bali juga dilaksanakan di Jakarta dan Ternate. “Kita memberi dukungan kepada anak-anak dan perempuan marginal di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi agar menemukan ruang untuk mengaktualisasikan dirinya,” ujar Dosen Luar Biasa Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma ini.

Direktur Marizsa Cardoba Foundation, Marizsa Cardoba, menambahkan, pihaknya berkomitmen memberi pelatihan dan bantuan usaha kepada penyintas autoimun untuk menjadi entrepreneur. “Tujuannya untuk mencetak wirausaha yang mengidap autoimun. Jadi kita sebut autoimun entrepreneur. Kami memilih 15 orang di setiap kota untuk diberikan fasilitas dan modal usaha dengan kriteria terbatas secara ekonomi, marginal dan sudah positif terdiagnosa autoimun,” jelas Marizsa.

Pilihan usaha yang mereka jalankan sangat mendukung kesehatan. “Kami juga mengkerucutkan jenis usaha yang sebaiknya mereka pilih adalah yang mendukung kesehatan, utamanya dari makanan, makanan sehat. Ada satu yang milih produk perawatan natural. Kami mendukung produk lokal, natural. Masyarakat juga mengenal bahwa yang natural yang menjaga kesehatan kita,” katanya.

Pendiri Firda Athira Foundation, Firda Athira, mengatakan pihaknya fokus pada pemberdayaan anak-anak marginal. “Hati saya terpanggil untuk membantu anak anak marginal khususnya yang autoimun,” ujar gadis yang masih duduk di bangku SMA ini.

Kegiatan ini juga diisi dengan Talkshow, dengan menghadirkan Ahli Nutrisi, Pengidap Autoimun dan Orang tua salah satu pengidap Autoimun. Mereka berbagi pengalaman tentang pola hidup sehat dan membagikan motivasi bagi penyintas autoiumun. 010

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.