Berbagi dengan Sesama, Langkah Kecil Rawat Kebhinekaan di Tengah Pandemi

Foto: Komang Suarsana didampingi istri tercintanya memperlihatkan sayur sawi segar yang akan dibagikan kepada masyarakat yang ada di Kota Denpasar.
382 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Berbagi tak harus mahal. Namun yang terpenting adalah rasa tulus ikhlas. Karena sekecil apapun bentuk pemberian jika diberikan kepada orang yang sangat membutuhkan, tentunya itu akan sangat jauh bermanfaat. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, berbagi kepada masyarakat terdampak tanpa memandang status sosial, baik suku, ras, dan agama menjadi salah satu langkah kecil untuk merawat kebhinekaan.

Seperti yang dilakukan Kelompok Petani Sari Pertiwi Bukit Selat, Songan, Kintamani, Bangli. Kelompok petani ini menyisihkan sedikit hasil panen sayur mereka untuk dibagikan kepada masyarakat terdampak yang ada di Kota Denpasar.

Sang Ketua Kelompok, Komang Suarsana yang tampak didampingi istri tercintanya menuturkan, masyarakat perkotaan sangat terdampak dengan adanya pandemi ini. Sementara di pedesaan, kata dia, masih bisa bertahan karena mereka hampir sebagian besar menggeluti pertanian.

“Kami lihat krisis pangan itu ada di perkotaan bukan di desa. Di desa kita petani selalu memiliki lahan yang bisa kita tanam dan bisa konsumsi sendiri, sehingga saya rasa saat inilah momen yang sangat tepat menurut saya untuk berbagi,” tutur pria berusia 37 tahun ini di Kubu Kopi, Denpasar, Sabtu (31/7).

Dikatakan, di masa pandemi ini, seorang petani juga ikut berjuang menghadapi situasi ini melalui cara berbagi dengan kawan-kawan atau saudara-saudara yang membutuhkan dengan menyisihkan sedikit dari hasil pertanian.

“Sayuran yang kami bagikan adalah paket lengkap hasil pertanian kami. Selain sayur seperti sawi, buncis, dan labu siam juga ada bumbu lengkap seperti bawang merah, cabe kecil dan besar dan juga kopi karena keperluan saya pemilik Bali Arabika,” ujarnya.

Dia menambahkan, komoditi sayur mayur di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) cukup menjanjikan. Harga stabil, bahkan cenderung naik. Karena pasokan dari luar Bali terhambat akibat adanya penyekatan untuk menekan kasus Covid-19.

Kendati demikian, pihaknya tidak serta merta mencari keuntungan dengan memanfaatkan situasi itu. Namun menyisihkan hasil panen kelompok tani untuk dibagikan kepada masyarakat yang terdampak. “Berbagi paket sayur ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap situasi saat ini. Mudah-mudahan mampu sekadar meringankan beban masyarakat di tengah pandemi ini,” tandasnya.

 

Foto: Pembagian lauk pauk bagi masyarakat terdampak pandemi di Kota Denpasar.

Lauk Pauk Empati Sang Pengusaha

Sementara itu, langkah kecil berbagi di tengah pandemi juga dilakukan pengusaha JNE Cabang Sesetan, Ratna Lo. Belum lama ini, pengusaha ini menyumbangkan 200 bungkus lauk pauk kepada warga terdampak di Kota Denpasar. Langkah kecil itu sebagai bentuk rasa empati dirinya terhadap situasi dan kondisi saat ini.

Kata dia, bantuan lauk itu bagi pedagang kecil, pengendara yang melintas, serta masyarakat lainnya yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya, akibat pandemi Covid-19.

“Saya pikir di luar sana banyak yang membantu masyarakat dengan menggelontorkan sembako berupa beras dan lain sebagainya, namun kami melihat dari sisi berbeda. Masyarakat pasti membutuhkan lauk. Apalagi saat ini sangat susah, untuk makan saja susah,” tuturnya.

Dikatakan, pihaknya merasa kasihan kepada masyarakat. Karena sudah ada nasi, namun tidak ada lauknya. “Jadi saya melihat kekurangan itu, sehingga saya berniat membantu untuk sedikit meringankan beban mereka,” ungkapnya.

Dia menambahkan, bantuan lauk pauk ini cukup untuk makan malam dua sampai tiga orang. “Kami memasak bertiga dengan sepenuh hati,” ujarnya sambil melepas tawa bahagia.

Foto: I Komang Kusumaedi (IKK)

Kepedulian Masyarakat Semakin Tumbuh

Seorang aktivis sosial, I Komang Kusumaedi (IKK) menilai, di tengah pandemi Covid-19, kepedulian masyarakat untuk berbagi dengan sesama kini semakin tumbuh.

Menurutnya Ada banyak cara untuk berbagai di tengah pandemi Covid-19. Tidak hanya berbagi sembako ataupun menyumbang ke yayasan, namun berbagi dengan pedagang di pasar tradisional juga menjadi salah satu alternatif di tengah anjloknya perekonomian akibat mewabahnya virus corona ini.

Lalu bagaimana caranya? Berikut penuturan I Komang Kusumaedi (IKK) tentang cara dia melakukan aksi sosial untuk berbagi dengan para pedagang di pasar tradisonal.

IKK yang juga Koordinator Peduli Yatim Piatu (PYP) Group menuturkan bahwa setiap hari Sabtu dia bersama keluarganya menjadwalkan pergi ke pasar tradisional yang ada di dekat rumahnya.

“Misinya adalah bersyukur, membantu, beramal dan empati bergotong royong serempak sebagai gerakan membantu masyarakat, khususnya kepada para pedagang, penjual, petani, pengepul dan lainnya yang beraktivitas di pasar yang lebih banyak masyarakat bawah,” tuturnya.

Dikatakan, caranya membantu adalah pertama datang ke pasar tradisional yang ada di sekitar tempat tinggal atau di pasar tradisional lainnya, setiap hari Sabtu.

Kemudian kedua, berbelanjalah sesuai kemampuan, kebutuhan dan keperluan atau berbelanja sekalipun barang yang ada tak semua diperlukan, tapi belanjakanlah uang apa adanya dengan motif membantu. Yang ketiga, lanjut dia, jangan menawar harga. Bayar saja berapapun harga barang di pasar tradisional misal untuk barang hasil pertanian, kebun, kolam, nelayan dan lainnya.

“Karena motif kita beramal dengan cara berbelanja tanpa menawar khusus di Hari Sabtu. Yang tak biasa mungkin sulit, aneh, protes dan lain-lain. Tapi itulah cara paling sederhana membantu petani, nelayan, pedagang dan masyarakat kecil. Bukan sekadar wacana tapi harus bertindak. Itulah tindakan kita, belanja tanpa menawar di pasar tradisional tiap Sabtu. Kalau hari lain silahkan tawar menawar bebas,” bebernya.

IKK yang juga Kabid Trantib Satpol PP Provinsi Bali menyebut kegiatannya itu “The Day Visit Traditional Market : Just Buying no Bargaining”. “Ini program IKK sekeluarga, sejak 2018 lalu. Semoga bisa diikuti oleh bapak/ibu, kawan-kawan dan sahabat serta keluarga-keluarga yang lain. Tidak juga tak apa karena IKK yakin semua sudah punya cara masing-masing untuk bersyukur, beramal, membantu orang lain dan itu pasti jadi berkah,” tandasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.