Bendungan Peninggalan Belanda Rusak Ditimpa Pohon

Foto: Bendungan di karangasem POHON tumbang menimpa bangunan bendungan peninggalan zaman kolonial Belanda di wilayah Kecamatan Abang, Karangasem. Foto: nad
Foto: Bendungan di karangasem POHON tumbang menimpa bangunan bendungan peninggalan zaman kolonial Belanda di wilayah Kecamatan Abang, Karangasem. Foto: nad
Foto: Bendungan di karangasem POHON tumbang menimpa bangunan bendungan peninggalan zaman kolonial Belanda di wilayah Kecamatan Abang, Karangasem. Foto: nad
795 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Pohon tumbang menimpa atap bangunan bendungan peninggalan kolonial Belanda di wilayah Kecamatan Abang, Karangasem. Akibatnya, alat buka-tutup saluran air di bendungan itu tidak bisa dijangkau karena terhalang batang pohon. Diketahui, air bendungan ini mengaliri persawahan di Subak Abang.

Salah seorang warga I Nyoman Kari, Kamis (3/9), menuturkan, atap bendungan yang ditimpa pohon itu sudah hampir lima bulan. Ia mengaku sudah melakukan koordinasi kepada pihak subak yang bersangkutan, namun karena kendala alat pengerjaan sehingga belum bisa dilakukan penanganan. Terlebih lagi pohon yang tumbang ukurannya sangat besar.

“Sebenarnya kami sudah lakukan koordinasi kepada pihak subak, ke Dinas PU terkait saluran irigasi, bahkan ke PU Pusat supaya bisa dilakukan penanganan terhadap pohon yang menimpa atap bendungan ini. Tapi sampai sekarang belum ada penanganan. Ini sudah hampir lima bulanan,”ungkap Kari.

Dikonfirmasi terpisah, Perbekel Desa Abang, I Nyoman Sutirtayana, belum mengetahui rusaknya atap bendungan yang berada di wilayah Desa Kesimpar, Kecamatan Abang itu. Ia mengungkapkan bahwa memang benar air bendungan itu mengalir ke wilayah Dusun Abang Kelod yang dimanfaatkan untuk pengairan irigasi sawah oleh petani Desa Abang.

“Saya belum tahu keberadaannya. Tadi ada informasi dari warga yang kebetulan menemukan kondisi bendungan ditimpa pohon, namun pohonnya belum ditangani masih dalam kondisi rebah diatas bendungan. Nanti saya akan koordinasikan supaya ada penanganan,” kata Sutirtayana.

Ia menuturkan, bangunan bendungan tersebut memang sudah lawas. Menurut cerita-cerita warga bahwa bendungan itu merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda. “Nanti akan saya koordinasikan bersama subak yang bersangkutan, juga kepada pihak yang bisa menangani agar bisa bisa dilakukan penanganan,” katanya. 017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.