‘Bebungkilan’ Kaya Manfaat untuk Usada Bali

SEMINAR 'Usadhikanda: Kawigunan Usadha Bali Sajeroning Kauripan Sadina-Dina’ yang berlangsung secara daring.
47 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Ternyata fungsi bebungkilan (umbi-umbian) berdasarkan usada Bali sangat kaya akan manfaat. Tak hanya untuk menyehatkan badan saja, akan tetapi juga menjadi bahan obat-obatan.

Hal itu terungkap dalam widyatula (seminar) serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021, bertema ‘Usadhikanda: Kawigunan Usadha Bali Sajeroning Kauripan Sadina-Dina’ yang berlangsung secara daring dengan peserta dari para praktisi, media, mahasiswa hingga masyarakat umum, Selasa (23/2).

Dalam seminar yang disambut antusias para peserta dan dimoderatori Luh Yesi Candrika, seorang penyuluh bahasa Bali, menghadirkan narasumber Drs. Ida Bagus Bajra, M.Si., yang mengangkat topik Usadha Bali, Ida Bagus Putra Manik Aryana, S.S., M.Si., membawakan materi Warga Sanak Catur Bebungkilan Ajengan Bali Maguna Usadha, dan I Putu Suweka Oka Sugiharta, M.Pd., Cht dengan materi Upon-Upon Usada Bali ring Pambiaran.

IB Manik Aryana yang juga Dosen Undiksa membeberkan khasiat umbi umbian atau bebungkilan, seperti jahe, kencur digunakan bisa untuk mengobati cacingan, kunyit untuk antiseptik dan kejang kejang dan sebagainya. “Rempah-rempah begitu banyak memiliki kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan,” tuturnya.

Sementara itu, Ida Bagus Bajra yang juga akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar mengungkapkan, dalam usada Bali banyak menyinggung berbagai tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang menyembuhkan berbagai penyakit dan bagaimana seorang balian mempraktekan Usadha Bali.

Menurutnya Balian itu ada istilah balian pengiwa, balian kepicain, balian usada ada juga balian campuran. Namun, kata IB Bajra seorang balian harus mengetahui kondisi pasien yang akan disembuhkan, bukan asal pengobatan saja. “Sebelum balian mengobati, mereka harus mengetahui empat hal, bagaimana ciri-ciri orang yang sakit, mengetahui sumber penyakit, nama penyakit dan menganalisa dengan baik,” ucapnya.

I Putu Suweka Oka Sugiharta, M.Pd., Cht., Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini menekankan apakah usada sudah mengalami kepunahan. Hal ini menurutnya, melihat fenomena kelestarian alam yang terancam. “Alam yang rusak akan mengancam berbagai aneka tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat hidup disana,” terangnya.

Ia mencontohkan, bagaimana seorang pendeta di zaman dahulu seperti Mpu Kuturan, Rsi Markandya yang memberlakukan hutan dengan hati-hati. “Tidak sembarangan masuk hutan, beliau para pandita sadar dan sangat menghargai hutan, karena hutan memiliki fungsi penting dalam kehidupan umat manusia, disana tumbuh berbagai tanaman langka yang berguna bagi dunia pengobatan, lantas bagaimana dengan kondisi hutan kita saat ini, apakah masih lestari,” ungkapnya.

Untuk diketahui, seminar dalam rangkaian Bulan Bahasan Bali mengangkat enam topik yakni Kalimosaddha, Widyosadha, Sastra Panaweng Gering, Usadhi Pranawa, Usadhikanda dan Dharma Usadha.

Dan Bulan Bahasa Bali untuk tahun ini, mengangkat tema “Wana Kerthi: Sabdaning Taru Mahottama” yang bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai Altar Pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Tertaut Jelajah Pemaknaan Hutan sebagai Prana Kehidupan. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.