BDF Momentum Kebangkitan Kembali Pariwisata Bali

377 Melihat

Turis pakai bikini sembari menikmati indahnya Pantai Padang di Kabupaten Badung, Bali 

*Persyaratan Perjalan Wisata Dipermudah

MANGUPURA – Perhelatan Bali Demokrasi Forum (BDF) yang dilaksanakan di Nusa Dua bulan Desember 2020, diharapkan menjadi momentum kebangkitan pariwisata Bali setelah 9 bulan di titik nadir akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Pasalnya,  event tahunan negara-negara demokrasi di Asia itu membawa delegasi. Dan diperkirakan sebanyak 1500-2000 wisatawan yang menginap di kawasan Nusa Dua.

Terlebih perhelatan acara tersebut dilaksanakan akhir tahun, dimana moment tersebut merupakan moment wisatawan berlibur dan menghabiskan waktu pergantian tahun.  “Memang hal itu menjadi harapan kami. Semoga nanti akan ada wisatawan (peserta internasional) yang datang dengan kunjungan khusus,” kata Managing Director The Nusa Dua, IGN Ardita dihubungi Rabu (11/11).

Menurutnya, kunjungan wisatawan ke Bali memang menjadi salah satu target penyelenggaraan BDF. Namun di tengah situasi pandemi saat ini, masing-masing memiliki kebijakan terkait bepergian ke luar negeri, termasuk ke Indonesia. Sejauh ini,  dari hasil rapat dengan panitia penyelenggara, muncul wacana format penyelenggaraan BDF tahun 2020 ini akan dilaksanakan secara hybrid.

Peserta dari luar negeri mengikuti  via video conference, sedangkan peserta Indonesia hadir langsung  di Bali. “Sampai saat ini kami belum mendapat informasi detail seperti apa. Tapi dari Kemenlu sempat berkoordinasi terkait rencana penyelenggaraan hybrid. Kami masih menunggu informasi finalnya, termasuk di hotel mana akan dipakai sebagai tempat perhelatan di kawasan Nusa Dua,” ujarnya.

Disisi lain, perhelatan BDF saat pandemi ini menjadi kesempatan bagus yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi kepada dunia, terkait kesiapan Bali untuk memulai kunjungan wisatawan dengan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Saffety, Environmental Sustainability).

Dengan demikian muncul kepercayaan wisatawan untuk berlibur ke Bali, saat aturan dan regulasi sudah memperbolehkan. “Jadi ini juga bisa kita pergunakan untuk memberikan informasi bagaimana konsen kita untuk industri pariwisata, mempersiapkan program-program yang meyakinkan bagi wisatawan terkait implementasi protokol CHSE. Event ini akan sekaligus media informasi kepada wisatawan kondisi di Bali dan Indonesia,”paparnya.

Jika delegaasi negara demokrasi itu datang ke Bali, pihaknya menilai kegiatan MICE tentu kembali bisa digeliatkan lagi dengan mengedepankan standar protokol kesehatan. Sebab BDF sendiri merupakan salah satu program MICE yang berdampak kepada sektor pariwisata.

Sebelumnya,  Ketua Legian Bussines Association (LBA) Arif Billah juga berharap agar pemerintah bisa lebih vokal menginformasikan perkembangan di Indonesia kepada wisatawan, serta kesiapan skema dalam menyambut kunjungan pariwisata. Sebab persepsi wisatawan internasional kepada Indonesia masih ragu dan mempertanyakan bagaimana penanganan dan fasilitas medisnya.

Untuk itu diperlukan semacam PR pariwisata dan edukasi, terkait bagaimana upaya penanganan Covid-19 menyangkut sektor pariwisata. Skema itu yang menurutnya perlu dijelaskan kepada wisatawan internasional, termasuk bagaimana kondisi gambaran saat ini.

Selain itu ia berharap kunjungan wisatawan domestik lebih gencar digenjot. Salah satunya dengan mempermudah persyaratan perjalanan wisata antar pulau. Sebab dari beberapa  diskusi dengan klien di Pulau Jawa dan Jakarta, mereka masih merasa ribet dengan persyaratan. “Harapan mereka itu cuma satu, agar dipermudah. Karena mereka juga antusias dengan kondisi saat ini. Mana pernah menginap di Bali semurah seperti saat ini,” ujarya. 023/003

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.