Bangun Kultur Inovasi

154 Melihat

KUTA SELATAN, posbali.co.id –  Era Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan lebih cepat pada berbagai aspek kehidupan. Perubahan tersebut mengantarkan perkembangan peradaban manusia menuju Era Society 5.0 yang menjadikan inovasi sebagai sarana utama bersaing di dunia.

Menghadapi tantangan tersebut, peran masyarakat akademik sangat sentral. Hasil-hasil riset yang dihasilkan kalangan akademis idealnya dapat dihilirisasi bukan hanya sebatas tulisan dalam jurnal, namun mampu melahirkan produk inovasi guna menjawab masalah di masyarakat secara nyata.

Demikian dinyatakan Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S.(K) di sela-sela seminar nasional bertajuk “Spirit for Development Innovation Culture” di Udayana International Convention Center (UICC), Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Jumat (20/9). Gelaran akademik yang digelar serangkaian Dies Natalis ke-57 Universitas Udayana tersebut digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unud, dengan pembicara Wakil Direktur Indonesia Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG (K) MPH dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara. Sedangkan, sebagai keynote speaker adalah Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si, yang pada kesempatan tersebut diwakili Kasubdit Pengembangan Sistem dan Jaringan Informasi, Dr. Wihatmoko Waskitoaji.

“Kami menyadari era Revolusi Industri 4.0 menuntut kita, kalangan universitas melakukan inovasi untuk melahirkan produk atau output yang bermanfaat bagi masyarakat. Atas dasar itu, serangkaian Dies Natalis ke-57 Universitas Udayana, kami menggelar kegiatan ini untuk mendorong membangun ekosistem yang dapat menunjang culture innovatio,” kata Raka Sudewi.

Sebagai perguruan tinggi terbesar di Bali, perkembangan inovasi di Unud diakui masih dalam bermacam-macam kategori. Pengembangan riset maupun inovasi dimanajemen khusus oleh LPPM Unud.

“Melahirkan inovasi kan ada beberapa tahapan, ada kategori 1, kategori 2, ada juga kategori 3. Dari bidang keilmuannya, produk inovasi kami juga masih bervariasi, dengan produk menonjol ada di bidang kesehatan, teknologi pertanian, dan teknik,” imbuhnya.

Hal senada dinyatakan Kepala BPPI Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara.  Menurutnya, untuk bisa bersaing di era ini memang diperlukan penciptaan inovasi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Mewujudkan hal tersebut, aspek kualitas sumber daya manusia (SDM) dipandang begitu sentral, dan perguruan tinggi sebagai penyedia SDM harus mampu menyesuaikan diri untul kebutuhan tersebut.

“Kurikulum di perguruan tinggi harus disesuaikan, harus berbasis teknologi. Pendidikan vokasi juga menjadi penting sebagai stressing penciptaan SDM siap saing. Jangan sampai kita yang sampai 2030 punya bonus demografi tidak dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai (bonus demografi) hanya jadi beban negara,” ucapnya. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.