Bangli Perlu Pemerataan Pengembangan Pariwisata

Para narasumber DIPA Bangli #4 beserta moderator usai berfoto bersama usai diskusi
Para narasumber DIPA Bangli #4 beserta moderator usai berfoto bersama usai diskusi
637 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Salah satu masalah pariwisata Bangli terkait pada pemerataan pengembangannya. Saat ini, pariwisata dipandang lebih banyak terkonsentrasi di Kintamani, padahal di kawasan lain masih banyak potensi.

“Saat ini pengembangan pariwisata di Bangli belum merata. Pengembangan pariwisata masih terkonsentrasi di Kintamani, padahal daerah lain di Bangli juga memiliki potensi pariwisata,” kata Ketua PHRI Bangli, I Ketut Mardjana, Ph.D, kepada awak media di akhir acara Diskusi Bersama Peradah (DIPA) Bangli #4 yang digelar DPK Peradah Indonesia Bangli, Sabtu (26/10).

Mantan Dirut PT Pos Indonesia ini mencontohkan, di Bangli Timur ada sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, misalnya kerajinan bambu, dulang, wisata air terjun, dan potensi alam lainnya. Hany saja potensi itu terkesan tertutup oleh wisata Kintamani dengan objek wisata utamanya Kaldera Batur.

“Begitu juga daerah (Bangli) Barat dengan (potensi) ukiran dan alam luar biasa. Sedangkan, di Kintamani Barat itu ada kopi dan agriculture yang luar bisa potensinya. Selanjutnya di Kintamani Timur dengan Geopark yang pertama di Indonesia dana lam yang begitu indah juga belum berkembang secara lebih pesat lagi,” jelas pendiri Toya Devasya ini.

Di sisi lain, ia menilai masih banyak ada kesenjangan antara antara pemerintah dan pelaku wisata. Hal ini, sebutnya, tentu saja dapat berpengaruh pada capaian kunjungan wisatawan.

“Kalau saja pemerintah daerah bekerjasama dengan komponen-komponen di masyarakat dalam pengembangan pariwisata, tentu akan jauh lebih besar (pencapaian wisatawan, red). Saat ini saya masih melihat gap, jadi stakeholder tidak terlibat langsung dalam membangun pariwisata,” katanya.

Ke depan, ia berharap harus ada sarana penunjang potensi-potensi pariwisata yang ada. Salah satunya dengan membangun pasar seni yang dapat digunakan sebagai tempat penjualan hasil induatri kreatif penunjang wisata.

“Jadi pembangunan disini hendaknya betul-betul bisa memilah-milah. Itulah yang disebut dengan zona ekonomi. Apa yang menjadi potensi di daerah-daerah di Bangli harus diidentifikasi dengan baik. Dan yang paling penting bagaimana awareness dari pemda bisa mendorong pembangunan infrastruktur yang menopang pariwisata,” katanya.

Diantara infrastruktur penting yang harus dikembangkan di Bangli, pria asal Kintamani ini menyebutkan pengembangan jaringan internet dan komunikasi harus kuat untuk mendukung digital marketing, lalu aksesibilitas seperti jalan harus ada.

“Kalau ini terjadi, maka akan bisa memunculkan gairah bagi masyarakat untuk membangun sarana-sarana dan itu juga bisa menarik pariwisata yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Pria yang mendapat pengakuan sebagai salah satu maestro entrepreneur terbaik di Indonesia menyebut pengembangan jaringan internet mnejadi isu terpenting dalam menopang pengembangan pariwisata di Bangli. “Ini terkait bagaimana memasarkan daerah wisata di Bangli ke target market yang telah ditentukan dengan lebih baik. Apalagi dengan generasi dan industri 4.0, membuat jaringan internet tidak bisa diabaikan,” pungkasnya.

Terkait anggaran, Ketut Mardjana mengatakan disinilah kepiawaian seorang pemimpin dibutuhkan. Ketut Mardjana mencontohkan, kenapa Banyuwangi yang sebelumnya tidak terlalu terlihat tapi sekarang pariwisatanya menggeliat dan tiba-tiba memiliki anggaran.

“Bangli juga bisa seperti ini. Pertama bagaimana kita mempromosikan dan melobi pemerintah pusat bahwa bagaimana anggran penting untuk menggaet wisawatan. Selain itu bagaiman kita menggaet investasi masuk kesini, karena anggaran tidak hanya dari pemerintah tapi juga dari swasta. Itu akan berlanjut ke hal yang lebih besar, karena begitu pembangunan terjadi akan meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan. Nah inilah yang akan menjadi kunci kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

DIPA Bangli merupakan program rutin besutan DPK Peradah Indonesia Bangli. Pada seri ke-4 yang mengambil tema “Pemuda, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif” dihadirkan tiga pembicara. Selain Mardjana, turut hadir pegiat industri krratif kelahiran Bangli, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, serta akademisi Universitas Udayana, I Gede Gita Purnama A.P., S.S., M.Hum., yang dipandu moderator akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, Dr. I Nengah Suarmanayasa, M.Si.

Pada kesempatan yang diikuti lebih dari 250 orang itu, Luh Djelantik lebih banyak memberikan motivasi pada para peserta untuk turun di dunia kreatif. Sementara, Gita Purnama, memberi pandangan kondisi kepemudaan Bangli berlandaskan buku antologi puisi Bali Anyar “Puspanjali” yang baru diluncurkan. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.