Baligrafi, Seni Menulis Menggunakan Aksara Bali

Foto: Peserta Krialoka (Workshop) Ngreka Baligrafi serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021, di Lantai I Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Rabu (10/2).
873 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Pengetahuan dasar dalam karya seni Baligrafi, yaitu mengetahui dasar aksara. Baik dalam penyesuaian, penempatan detail, seperti gantungan, gempelan dan lainnya.

Hal tersebut disampaikan Dosen STAHN Mpu Kuturan Made Susila Putra, S.Pd., M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Krialoka (Workshop) Ngreka Baligrafi serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021, di Lantai I Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Rabu (10/2).

Dalam workshop yang diikuti sebanyak 25 peserta dari mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Bali, serta penyuluh Bahasa Bali dari berbagai daerah di Bali ini, Susila Putra menjelaskan bahwa Baligrafi bagian dari seni rupa yang menggunakan dasar-dasar seni dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Diantaranya titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, gelap terang dan lainnya.

“Kami memberikan dasar-dasar yang simpel. Karena Baligrafi ini juga bagian dari unsur-unsur seni rupa,” terangnya.

Lanjut dia, untuk bisa ngereka Baligrafi, para peserta harus memahami terlebih dahulu unsur seni rupa, lalu memahami unsur aksara. Setelah itu baru itu memadukan aksara dengan unsur seni rupa itu untuk menjadi sebuah karya Baligrafi.

“Baligrafi itu seni menulis dengan menggunakan aksara Bali. Singkatnya membuat kaligrafi dengan menggunakan aksara Bali. Ini mesti di fameliarkan, karena belum terlalu banyak yang mampu melakukannya,” imbuhnya.

Narasumber dari Dosen STAHN Mpu Kuturan, Made Reland Udayana Tangkas, S.S., M.Hum., dalam makalahnya yang berjudul ‘Baligrafi; Petemuan, Aksara, Sastra dan Rupa’ menjelaskan awal mula Baligrafi yang diperkenalkan berawal dari sebuah Festival Baligrafi Internasional ada 2013 di Museum Gunarsa.

“Baligrafi penting dilakukan, karena merupakan budaya Bali yang adiluhung. Apalagi di zaman globalisasi ini ngreka Baligrafi sebagai ajang untuk melestarikan Budaya Bali,” ujarnya

Sementara itu, Penjabat Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali 2021, Made Mahesa Yuma Putra, SS.,MSi., mengatakan, workshop ngereka Baligrafi ini merupakan kegiatan pertama kali dilakukan, sehingga disambut antusias para generasi muda.

“Sesungguhnya, peserta yang berminat cukup banyak, namun karena dalam suasana pandemi Covid-19, peserta kemudian dibatasi yang hanya 25 saja. Penerapan protokol kesehatan menjadi bagian dari krialoka, seperti memakai masker, mencuci tangan, cek suhu dan menjaga jarak,” tuturnya.

Dia menambahkan workshop ini bertujuan untuk melestarikan aksara, bahasa dan sastra dalam bentuk penulisan naskah dalam lontar. Baligrafi ini sebagai suatu rangkain huruf atau sastra yang memiliki suatu makna.

“Penulis Baligrafi ini memang sangat langka, makanya kita panitia pelaksana kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2021 ini melaksanakan workshop. Intinya untuk mengajak masyarakat agar tertarik untuk membuat suatu rangkaian aksara yang bermakna itu,” pungkasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.