Bali Terbaik, Dalam Penanganan Corona di Indonesia

GRAFIS perbadingan perkembangan 10 provinsi dengan Covid-19, nasional dan global. Foto: ist
930 Melihat

PALING tidak sampai pertengahan April 2020, terbukti bahwa Bali menjadi yang terbaik dari 10 provinsi dalam mengurus wabah Covid-19 (Corona) di Indonesia. Data grafis menentukan demikian.

Menko Maritim Luhut Binsar Penjahitan juga melaporkan dalam sidang Kabinet kepada Presiden Jokowi, bahwa Bali, provinsi terbaik dalam menekan korban Corona. Malahan ia juga mengharapkan Bali, pulau  paling depan nanti usai dengan urusan Corona yang sangat jahat itu.

Ada 10 provinsi yang diperbandingkan yakni Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua. Dari jumlah korban meninggal (4 orang), hanya 1,33 persen. Paling kecil, dibandingkan NTB (5) – 1.60 persen. Korban paling tinggi terjadi di Jakarta (424), namun prosentase tertinggi di Banten 11,09 persen.

Tanpa melakukan PSBB, Bali juga mampu menertibkan masyarakat dengan tinggal di rumah, bekerja dari rumah dan melakukan ibadah dari rumah. Di sana-sini memang ada yang kurang disiplin, tetapi dengan peranan penuh desa adat dibantu desa dinas – masyarakat Bali relatif lebih tertib di banding penduduk di provinsi lain.

Bali dalam menanggulangi Corona, menyeimbangkan kegiatan sekala (fisik) dan kegiatan niskala (non-fisik). Keseimbangan tersebut sangat terasa, sebab segala apa yang dilakukan di bumi (dunia ini), juga tidak terlepas dari tuntunan Ida Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Hyang Maha Esa.

Menghaturkan sesajen dengan ikhlas, mohon doa supaya Corona segera berhenti (lenyap) menjadi salah satu kepercayaan umat Hindu di Bali.

Suasana kebathinan masyarakat Bali dengan menyeimbangkan sekala dan niskala begitu tinggi dan penuh keikhlasan, sehingga segala kebijakan yang diputuskan Gubernur Bali Wayan Koster berjalan dengan baik. Berbagai kritik dan nyinyiran segelintir orang terhadap apa yang dilakukan Pemerintah, terbantahkan dengan sendirinya.

Kalau saya mengamati grafis yang ada, perkembangan Corona di Bali banyak terpengaruh dengan kedatangan PMI (Pekerja Migran Indonesia) atau ABK (Anak Buah Kapal) dari luar negeri.  Dari 300 kasus,  52.33 persen ditentukan  PMI,  transmisi lokal 38.00 persen, luar Bali 7.00 persen dan  WNA 2.67 persen.

Jika saja PMI tidak pulang misalnya (artinya tetap bekerja di tempat masing-masing), kondisi Bali relatif akan lebih aman dari serbuan Corona. Hal inilah menyebabkan pengamat asing terheran-heran, kenapa Bali tidak separah daerah lain. Padahal Bali merupakan tujuan wisatawan internasional di dunia.

Kesan ini, sangat jitu dipakai promosi untuk segera memulihkan Bali sebagai daerah wisata, sehingga turis kembali normal berkunjung ke Bali. Pemerintah bersama industri pariwisata dapat segera memberitahu dunia yang menjadi sumber wisatawan, bahwa Bali tetap aman sebagai tujuan wisata.

Bali memiliki protokol kesehatan paling baik dengan disiplin masyarakat yang solid  dan toleransi yang begitu tinggi. Masyarakat mampu menjaga dirinya sendiri dengan kesadaran yang tulus.

Sekalipun belum ada pihak yang dapat memprediksi sampai kapan Corona ini  “ngamuk” di Indonesia, kita percaya Bali tetap terbaik mengurus wabah itu sehingga segera sirna dari gumi Bali. [Made Nariana, SK POSBALI]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.