Bali Tegas Menolak Pariwisata Ramah Wisman Muslim Ide Menpar Ekraf

KIRI-KANAN Ricky Putra, Ramia Adnyana, Putu Astawa
KIRI-KANAN Ricky Putra, Ramia Adnyana, Putu Astawa
1,022 Melihat

Menyikapi statemen Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Whisnutama Kusubandio, Bali dan Toba akan dijadikan pariwisata ramah wisman muslim, menuai penolakan dan kecaman berbagai elemen dan pemangku kepentingan di Sumatera Utara khususnya Toba dan Bali

Ketua Bali Hotel Association (BHA), Ricky Putra menyatakan dirinya kaget dan menyesalkan pernyataan Menpar tersebut. “Pertama tama kami ucapkan selamat atas dilantiknya Pak Menpar Wishnutama dan dan Ibu Wakil Menpar Angela. Tentunya kaget, sekaligus menyesalkan pernyataan beliau yang ingin membuat Bali dan Toba lebih ramah wisatawan Muslim,”kata Ricky, Senin (11/11).  

Menurut GM Puri dan Royal Santrian ini, semua akomodasi wisatawan selalu berusaha memberi  yang terbaik, dan banyak tamu setelah berkunjung ke Bali memiliki ever lasting memories atau pengalaman yang tidak pernah terlupakan.  “Kita memiliki product differentiation yaitu dengan pariwisata buday nya.  Saya pernah melayani langsung business man Raja Al Waleed dan beliau sangat happy.  juga kunjungan Raja Salman tahun lalu yang juga sangat happy malah sampai putra putra mahkotanya datang lagi ke Bali setelah kunjungan sebelumnya,”katanya

Chairman Sanur Hospitality Forum (SHF) ini juga menegaskan, Bali dengan pariwisata budayanya berkali kali meraih The Best Destination di dunia, juga banyak hotel hotel di Bali yang menerima the resort in the world dari majalah terkenal dunia yaiti Travel & Leisure Magazine.  “Ini menunjukan baik dari sisi product dengan pariwisata budayanya, juga dari sisi service dan people mampu memberikan service ke semua tamu tanpa memandang back ground, nationality maupun agama tamu,”tandas Ricky

Praktisi pariwisata lainnya, Made Ramia Adnyana, SE.MM.CHA mestinya menteri pariwisata melakukan dialog bagaimana menciptakan pembangunan pariwisata Bali kedepan bukan berpatokan hanya pada religius saja. Ramia menjelaskan, ketika nanti ada event Tourism Outlook 2020 pihaknya akan mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuka  acara dan sekaligus ingin bersilaturahmi dan berdialog dengan stakeholder pariwisata di Bali.  “Kami ingin mendengar strategi beliau terkait pariwisata ramah wisman muslim, apakah bagian dari pembangunan kepariwisataan di Indonesia dan Bali lima tahun kedepan,” jelasnya saat dihubungi, Senin (11/11).

Ia melanjutkan, pada dasarnya pariwisata Bali bertaraf internasional sudah bisa menyumbangkan devisa yang cukup besar dibandingkan dengan propinsi lain. Artinya, tanpa adanya pariwisata ramah wisman muslim di Bali, sudah bisa menyumbangkan devisa dengan nilai yang cukup tinggi sebab SDM di Bali toleransi cukup tinggi, bisa menerima tamu dari kalangan yang berbeda agama serta tidak memandang suku maupun ras.

“Seharus Bali dengan penyumbang devisa yang cukup besar, mendapatkan kontribusi yang menyimbang 40% dari target secara nasional. Lalu apa kontribusi balik dari pemerintah pusat melalui Kemenparekraf untuk pengembangan dan menjaga agar kontribusi tersebut bisa sustainable dan tumbuh sehingga memberi impact secara nyata terhadap peningkatan kesejahtraan masyarakat Bali melalui pariwisata,” tegas Ramia.

Di tempat terpisah, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa dalam waktu dekat ini akan segera menghadap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama untuk menjelaskan terkait konsep pariwisata budaya yang diterapkan di Bali. “Di Indonesia itukan Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika yang beraneka ragam. Jadi apapun kita harus ramah ya Muslim, Kristen, Bhuda, dan lainnya, ya kita harus ramah kan gitu ya,” ujarnya usai menghadiri Sidang Paripurna DPRD Bali.

Menurutnya, jati diri pariwisata Bali adalah pariwisata budaya, sehingga tidak perlu lagi dengan branding hal-hal yang lain. “Keramahan terhadap wisatawan muslim kami kan sudah. Yakni dengan adanya musolah, masjid, di hotel-hotel  sudah ada kiblat, makanan-makanan halal banyak, serta yang lainnya,” jelasnya.

Putu Astawa menambahkan bahwa sejak dulu masyarakat Bali telah ramah kepada siapapun, termasuk kepada umat Muslim. Kendatipun demikian, bukan berarti budaya yang dimiliki harus ditiadakan, seperti babi ataupun pakean kebaya Balinya serta yang lainnya. “Jangan dirubah branding pariwisata Bali itu dengan branding yang lain. Itu yang penting.  Itu yang ingin saya sampaikan kepada Pak Menteri. Masalah kita ramah,  okelah dari dulu memang ramah. Kita siap dengan buktinya yakni banyak fasilitas-fasilitas yang ada,” bebernya.  nan/alt/pol

Gde Agung : Wacana Jangan Bikin Gaduh

Anggota Komite III DPD RI AA Gde Agung menyayangkan pernyataan menteri disebuah media dengan mencanangkan pariwisata Bali yang ramah wisatawan Muslim. Pernyataan tersebut dinilai keliru oleh Pengelingsir Puri Mengwi itu. Sebab sejak ratusan tahun, raja-raja di Bali sudah memberikan tempat untuk warga muslim di Bali.

“Bila benar yang disampaikan seperti itu oleh Menteri Pariwisata itu, harus segera diklarifikasi apa maksudnya serta mengumpulkan tokoh-tokoh, masyarakat, pariwisata agar tidak menjadi salah penafsiran, agar tidak menjadi kegaduhan,” kata Gde Agung, Senin (11/11).

Anak Agung Gde Agung Anggota DPD RI

Mantan Bupati Badung dua periode menegaskan, di Bali parwisata budaya. “Bali itu berlandaskan Pariwista budaya itu yang harus dipahami menteri, dan pariwisata budaya lah yang harus menjadi focus untuk pengembangan pariwisata Bali,” tegasnya. Toleransi oleh masyarakat Bali tidak perlu diragukan lagi. Terbukti, kunjungan Raja Arab, di Bali sampai memperpanjang kunjungannya. 

“Itu artinya wisata di Bali sudah sangat ramah dengan wisatawan muslim. Kalau terkait makanan, susah banyak disediakan restoran halal, masakan padang, bahkan ada warung yang menyediakan vagetarian,” katanya.

Justru lanjut dia, yang perlu di pertegas adalah apa yang didapat Bali atas parwisita yang sangat berkembang. “Bali sudah memberikan devisa kepada negara hingga triliunan per tahun.  Sekarang fokus berapa yang bisa dikemnalikan untuk pariwisita Bali,” tegas Anggota Komite yang mengurusi Bidang Budaya dan Pariwisata itu. nas

Nyoman Sri Kesari (kiri) Made Suarta

Akademisi Minta Kaji Dulu Sebelum Dilempar ke Publik

Gagasan menyulap Bali lebih ramah bagi wisman Muslim oleh Menpar Wishnutama, ditanggapi oleh akademisi di Bali. Rektor Undiknas,  DR Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., MM, mengatakan ada beberapa hal yang sepatutnya dipahami oleh menteri yakni soal seni, adat dan budaya Bali.  

“Ide atau gagasan pengembangan kepariwisataan mestinya dikaji lebih jauh tentang dampak sosial, ekonomi dan psikologi, sehingga hal yang disampaikan tidak salah. Menteri mestinya merancang dulu gagasan dan dikaji sebelum dilempar ke publik. Karena tiap daya tarik wisata di daerah, memiliki keunikan. Dan ini menjadi keunggulan pariwisata bukan sekedar menyamakan semua budaya,”tegasnya

Lanjutnya, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mesti menggali potensi pariwisata yang dapat dikembangkan di Indonesia, membuat infrastruktur pariwisata yang lebih baik, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) masing-masing daerah termasuk mind set masyarakat tentang pelayanan optimal terhadap wisatawan.

Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. Made Suarta, SH, M.Hum juga memberi pendapat yang senada. Menurutnya, bangsa dan negara Indonesia terlahir sebagai bangsa majemuk,  beragam suku bangsa, beragam agama dan beragam budaya. Budaya dan kearifan lokal di masing-masing daerah mesti diapresiasi negara. 

Ragamnya budaya ini yang mampu menarik minat wisatawan. Khusus pariwisata budaya Bali yang sudah dikenal luas bahkan duniapun mengakuinya. “Bali merupakan destinasi wisata tersohor di dunia. Terkait hal itu, mestinya menteri Wishnutama sebaiknya belajar ke Bali karena sudah terbukti pariwisata Bali dengan nafasnya Agama Hindu memang luar biasa dan pantas dicontoh,” kata Suarta bud

Jangan Gelontorkan Isu Usang yang Tak Layak Jual

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) sekaligus Ketua PHRI Badung, IGN Surya Wijaya angkat bicara. Bahkan untuk memperjelas, pihaknya segera bertemu Menparekraf meminta klarifikasi langsung, sekaligus mencegah adanya asumsi liar terkait isu yang berkembang tersebut.   “Kita sudah kontak melalui deputi-deputi beliau (Menparekraf), kami masih menunggu jadwal beliau untuk bisa bertemu langsung,” kata Surya Wijaya yang mengaku baru pulang dari agenda Sales Mission ke Inggris.

Menurutnya,  wacana menjadikan Bali lebih ramah wisatawan muslim merupakan wacana lama dan itu jelas-jelas sudah pernah ditolak Bali. Baik itu berupa wisata syariah, wisata halal maupun friendly muslim. Namun wacana tersebut seolah kembali dimunculkan dan mengesankan Bali kurang ramah dengan wisatawan muslim.

Padahal Bali sebagai pulau yang dikenal dengan sebutan The Island of Good, The Island of Temple, The Island of Love, The Island of Paradise, kini juga dikenal dunia dengan sebutan The Island of Tolerant (pulau toleransi).  Hal itu menandakan Bali sangat ramah bagi semua wisatawan.

Rai Suryawijaya dan mantan Mneteri Pariwisata Arif Yahya dalam suatu kesempatan

Bahkan sudah dibuktikan dengan kunjungan Raja Salman yang berlibur di Bali dan ekstend selama dua minggu di Bali, dari rencananya hanya berlibur selama seminggu.  “Ini kan aneh, seolah mengesankan Bali kurang ramah. Padahal di Bali toleransinya sangat tinggi, suku dan agama apapun ada di Bali. Bahkan kondisinya sangat rukun dan saling menghargai. Jadi jangan dibuat ribet lagi dengan menonjolkan salah satu agama, sebab agama itu sifatya personal. Jangan itu dibawa-bawa ke pariwisata,” kata Rai.

Indonesia merupakan negara Bhineka Tunggal Ika yang sangat kaya akan keanekaragaman budaya, yang merupakan daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke Bali dan Indonesia. Untuk memperkuat pariwisata budaya tersebut, ia menilai tentunya diperlukan pembenahan destinasi, promosi yang lebih gencar, serta event yang lebih atraktif dan variatif. Jangan seolah menggelontorkan isu yang sudah usang dan tidak layak dijual.

“Kita punya keragaman budaya, keindahan alam, didukung oleh SDM, keamanan dan kenyamanan. Karena itulah pariwisata bertumbuh dengan baik, dan itu akan makin berkembang jika didukung ekonomi kreatif melalui event,”tegasnya. gay

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.