Bahas “Siwa Budha”, Kuliah Umum di Unhi Hadirkan Dr Andrea Acri

Penyerahan kenang-kenangan kepada Dr Andrea Acri (tengah) sebagai pembicara dalam kuliah umum “Siwa Budha” di kampus Unhi Denpasar, Jumat (29/11).
1,068 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menggelar kuliah umum mengangkat tema “Siwa Budha” pada Jumat (29/11) di kampus setempat. Kuliah umum ini menghadirkan Dr. Andrea Acri, seorang Ahli Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno yang berasal dari Italia, sebagai pembicara.

Dalam kesempatan itu, Andrea Acri memaparkan tentang persamaan dan perbedaan agama Siwa dan agama Budha, bagaimana keberadaan kedua agama itu di India dan di Nusantara, serta naskah-naskah Siwa dan naskah-naskah Budha di Nusantara. Kuliah umum ini tidak hanya diikuti mahasiswa dan dosen Unhi, namun juga dihadiri para pemerhati budaya dan penekun naskah lontar di Bali.

Mengawali pemaparannya, Acri mengatakan, tidak terpungkiri bahwa pluralisme menjadi salah satu ciri khas identitas Nusantara. Pemeluk agama-agama di Indonesia yang memiliki sifat terbuka menerima pengaruh dari luar sehingga memperkaya identitas keagamaannya. Berbeda dengan di negara lain yang cenderung begitu ketat untuk menerima pengaruh dari luar.

Dosen di l’École Pratique des Hautes Études, Universite PSL (Paris) ini mengajak membaca ulang keberadaan agama Siwa dan agama Budha di Nusantara pada masa lalu. Ia menjelaskan, ada banyak peneliti yang menilai bahwa persentuhan kedua agama itu di masa pra-Islam sebagai sebuah sinkretisme (perpaduan). Beberapa peneliti lainnya menganggap hal itu sebagai sebuah koalisi (kerja sama) semata. Sementara Acri berpendapat, keberadaan Siwa dan Budha tersebut lebih mendekati sebuah inklusivisme, yakni mengakui agama di luar bagian dari agamanya sendiri, namun tetap agamanya sendiri yang dianggap lebih tinggi.

Menurut Acri, prinsip kesetaraan dalam kekawin-kekawin Budha harus dinilai kembali. Karena dari apa yang ditemuinya melalui membaca teks-teks kuno, disebutkan bahwa pendeta Siwa dan pendeta Budha terpisah (tidak dicampur). Candi juga dipisahkan, ada candi Siwa dan ada Candi Budha; tidak ada candi Siwa-Budha jadi satu. Walaupun ada ornamen atau patung dewa-dewa Hindu dalam candi Budha atau sebaliknya ornamen atau patung Budha dalam candi Siwa (Hindu), tapi diletakkan di mandala luar, bukan di bangunan utama.

Di dalam kitab Kekawin Sutasoma ada bait menyebutkan soal agama Siwa dan Budha, dimana keduanya dikatakan sebagai bhinneka tunggal ika (berbeda-beda, tetapi tetap satu jua). Bahkan, ini menjadi semboyan Negara Republik Indonesia. “Namun sampai sekarang saya belum yakin apa artinya itu. Apakah itu merupakan pluralisme, sistem-sistem keduanya terpisah tetapi tetap eksis. Apakah terjadi sebuah sinkretisme? Ataukah mereka sama sebenarnya inklusivisme?” ujarnya.

Menurut Acri, Kekawin Sutasoma justru memberikan pesan bahwa Siwa sesungguhnya salah satu aspek dari Bodhisatwa. Jadi, Budhisme itu yang lebih penting. “Hal ini mirip seperti halnya di India, ada purana yang menyebutkan bahwa Budha itu salah satu aliran Wisnu, Budha adalah awatara Dewa Wisnu. Ini dari perspektif Hindu,” jelas penulis buku “Dharma Patanjala” ini.

Direktur Program Pascasarjana Unhi, Prof Dr I Wayan Suka Yasa, MS, mengatakan kuliah umum ini digelar dalam rangka Peringatan Bulan Ulang Tahun Program Pascasarjana Unhi. Dengan menghdirkan peneliti dari luar negeri, diharapkan dapat merangsang generasi muda di Indonesia khususnya di Bali lebih tertarik menggali naskah-nskah kuno di Nusantara. “Orang luar saja tertarik, mengapa orang Bali tidak,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, ketika agama Hindu-Budha di Jawa memasuki masa surut, naskah-naskah penting yang ada di Jawa dibawa ke arah timur, salah satunya ke Bali. “Di satu sisi naskah-naskah itu dibawa ke daerah Tengger atau Merapi Merbabu, tapi di lain sisi ada yang militan di Sunda Wiwitan menyimpan naskah-naskahnya, serta mempelajari dan mengamalkan ajarannya. Salah satu dari ajaran yang penting itu adalah Dharma Patanjala yang kemudian diteliti oleh Andrea Acri,” terang Prof Suka Yasa. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.