Atasi Sampah dari Hulu, Setiap Rumah Bisa Terapkan Konsep 3RB

Foto bersama para peserta dan narasumber workshop pengolahan sampah pada Kamis (8/8) di Denpasar.
Foto bersama para peserta dan narasumber workshop pengolahan sampah pada Kamis (8/8) di Denpasar.
1,284 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Permasalahan sampah di Indonesia termasuk juga di Bali, bukan hanya soal sampah non-organik. Justru 70 sampai 80 persen dari total timbulan sampah secara nasional adalah sampah organik. Salah satu solusi untuk menangani permasalahan sampah organik yakni dengan menerapkan konsep 3RB (Reduce, Reuse, Recycle, Benefit) yang bisa dilakukan mulai dari skala rumah tangga.

Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Olah Sampah Organik untuk Ketahanan Pangan Keluarga yang berlangsung di Warung Bali Warti Buleleng, Jl. Ganetri, Denpasar, Kamis (8/8). Workshop ini menghadirkan dua narasumber, Arif Solihin dan Dimas Tankiniro, dari Timdis (Teknologi Inovasi Manajemen Daur Ulang Insan Sanitarian Indonesia), Yogyakarta.

Arif Solihin menyampaikan, penanganan sampah mesti dilakukan mulai dari hulu, dari rumah tangga. Melalui konsep 3RB ini pihaknya mengenalkan metode pengolahan sampah organik yang lebih cepat. Dengan harapan, setiap rumah nanti bisa mengelola sampah organiknya dengan metode yang diterapkan, baik untuk kompos maupun untuk pakan ternak. “Bali sangat konsen mengenai masalah sampah plastik. Tetapi jangan lupa penanganan sampah organik,” katanya.

Dimas Tankiniro memaparkan, agar sampah tidak banyak yang sampai dikirim ke TPA, maka harus dilakukan pengelolaan langsung dari sumbernya. “Kalau program pemerintah kan 3R, reduce, reuse, recycle, tapi kita tambahi benefit. Benefitnya apa? Dari masyarakat kembali ke masyarakat lagi,” ujarnya.

Lebih lanjut Dimas menjelaskan, melalui workshop ini akan mengubah paradigma, pola pikir masyarakat tentang sampah. Sampah tidak lagi sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat, sebaliknya sampah dapat memberi manfaat dengan diolah langsung dari sumbernya. Caranya, dipilah dulu, mana organik dan mana non-organik.

Dalam workshop ini, sampah organik diolah menjadi kompos dalam waktu lima menit jadi. Caranya? Dipilah partikel-partikel sampah menjadi partikel lebih kecil dengan cara dijus. “Lalu kita tambahin unsur garam dan arang sekam, kita campur di situ. Ada tambahan lagi, dengan teknologi mikrobial, kita bikin sendiri dengan nama remen. Kita campurkan remen ke dalam sampah olahan tadi. Dan ini seketika bisa ditanami,” jelasnya.

Dimas menambahkan, Timdis sudah bergerak dari tahun 2009 dimulai di Yogyakarta. Kini 3RB sudah diadopsi di banyak kota di seperti Palembang, Jambi, Lampung, Jakarta, hampir seluruh Jawa, bahkan sampai Papua. “Selain kompos satu jam jadi, ke depan akan mengadakan workshop sampah menjadi pakan ternak seketika langsung jadi,” ujarnya.

Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari, Ni Wayan Riawati, selaku inisiator workshop mengatakan, kegiatan ini diikuti 32 orang dari berbagai kalangan terutama bank sampah. Menurutnya, bank sampah berbasis masyarakat tidak hanya beurusan sampah plastik dan non-organik lainnya, tapi juga organik. “Workshop ini memberi pembuktian bahwa kompos bisa jadi dalam satu jam. Bagaimana mengolah limbah di rumah menjadi kompos untuk kemudian ditanami sayuran, buah-buahan, serta tanaman obat,” jelasnya. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.