Antisipasi Kerawanan Wilayah, Masyarakat Intensifkan Patroli dan Siskamling

ist/ delapan remaja yang diamankan karena ingin melakukan aksi trek-trekan tengah malam
420 Melihat
MANGUPURA, POSBALI.co.id – Guna mencegah timbulnya kerawanan sosial akibat dampak pandemi Covid-19, pihak Desa adat di kawasan pariwisata Badung Selatan terus gencar melakukan patroli wilayah. Selain patroli yang dilakukan keamanan desa adat,  beberapa wilayah lingkungan perumahan juga mulai mengaktifkan pos kemanan keliling (poskamling). Seperti di wilayah kelurahan Benoa, lingkungan Banjar Mumbul kini secara rutin melakukan kegiatan ronda keliling.

Bendesa Adat Jimbaran, Made Budiartha juga memberikan atensi terkait sektor keamanan di wilayah Jimbaran. Pasalnya sebagai daerah heterogen, kondisi saat ini membuat warga sulit mencari pekerjaan, sehingga membuat mereka kesusahan pula mencari makan. Ditengah kondisi tersebut, tentunya akan membuat sektor kriminal akan meningkat. Sejauh ini di Jimbaran diketahuinya sudah ada 4 kejadian pencurian pada bulan april ini. Dimana yang terakhir adalah upaya penjambretan bule, namun yang bersangkutan berhasil lolos. “Kita terus intensifkan patroli dan ronda keliling, demi menjaga keamanan dan kenyamanan wilayah,”ujarnya.

Selain sektor keamanan, aktivitas trek-trekan juga menjadi atensi pihaknya dalam menjaga kenyamanan wilayah. Pasalnya aksi balap liar di jalan tersebut diakuinya sudah cukup lama membuat masyarakatnya resah. Apalagi hal itu kerap kali terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, namun selama ini aktivitas tersebut sangat sulit ditemukan. Dengan adanya aktifitas patroli yang intens, akhirnya aktivitas trek-trekan tersebut berhasil diketemukan pada Minggu (26/4) malam oleh petugas Keamanan Satgas Gotong Royong Penanganan Covid-19 Desa Adat Jimbaran. Mereka merupakan 8 orang pemuda yang berasal dari luar Jimbaran, yang notabene merupakan pelajar SMA. “Petugas kami mengamankan 8 orang pemuda yang disinyalir hendak melakukan aksi trek-trekan di jalan Bypass Ngurah Rai Jimbaran. Kedelapan pemuda tersebut diamankan saat berkumpul di salah satu titik, dekat jembatan jalan bypass Ngurah Rai Jimbaran,”sebutnya.

Sementara menurut keterangan Koordinator Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat Jimbaran, Wayan Sutama Asmara. Delapan orang pemuda tersebut merupakan beberapa orang pemuda yang berhasil diamankan petugas, sementara sisanya berhasil kabur saat dipergoki petugas. Setelah dilakukan pendataan, kebanyakan pemuda tersebut ternyata diketahui masih berstatus pelajar. “Mereka kita temukan sedang berkumpul, itu sekitar jam 12 keatas. Karena itulah petugas melakukan upaya pencegahan agar tidak terjadi trek-trekan,”ujarnya.

Pada dasarnya, langkah yang diambil pihaknya atas temuan tersebut adalah dengan melakukan edukasi dan meminta pemuda tersebut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal tersebut dilakukan sekaligus untuk memupuk rasa cinta terhadap tanah air. Selain itu, pihaknya juga meminta pemuda tersebut untuk mendatangkan orang tuanya masing-masing. Tujuannya adalah agar orang tua mereka mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya tersebut, yang notabene berkeluyuran hingga larut malam. “Para orang tua yang datang, mengaku sangat menyesalkan perbuatan anak-anaknya. Antara alasan yang diberikan anaknya kepada mereka ternyata tidak sesuai kenyataan,”sebutnya sembari menerangkan pihak orang tua diakuinya juga menyampaikan terimakasih kepada petugas.

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, mereka kemudian diminta membuat surat penyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya itu dikemudian hari. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan efek jera dan pihak orang tua juga menyerahkan mereka untuk bisa ditindak secara hukum, apabila mereka kemudian mengulangi perbuatannya. Setelah mereka dibina, mereka kemudian dipersilahkan pulang ke rumah masing-masing. “Hendaknya sebagai generasi muda, mereka ini belajar dengan baik, bukannya trek-trekan. Apalagi ini saat pandemi Covid-19. “Yang kami takutkan adalah timbul reakasi dari masyarakat atas aktifitas trek-trekan tersebut yang mengganggu kenyamanan warga. Selain itu jika mereka jatuh itu juga akan membuat rugi mereka sendiri. Ia jika itu hanya trek-trekan, kalau ada unsur alkohol yang masuk dan barang-barang terlarang, itu kan juga membahayakan dan merusak mereka sendiri,”paparnya.

Sebelumnya, Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista menerangkan pandemi Covid-19 membuat suasana di wilayah Kuta saat ini sangat sepi dari aktifitas. Hampir seluruh toko di Kuta diketahui telah ditutup, bahkan operasional hotel di Kuta kebanyakan sudah tutup. Berkaca dari hal tersebut pihaknya di desa adat bersama kelurahan dan LPM terus intens melakukan patroli wilayah, untuk mencegah aksi kriminal atas kondisi yang terjadi saat ini. Dimana pengamanan rutin yang dilaksanakan kini intensitas, jangkauan wilayah dan personilnya lebih ditingkatkan dari kondisi sebelumnya. “Kita intensifkan patroli mobiling, sebab semua jalan di Kuta kini sepi, utamanya pada malam hari. Kalau dulu mungkin ada sentra-sentra yang kita perkirakan menjadi titik rawan, tapi sekarang semuanya rawan karena kondisinya sepi,”ungkapnya. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.