Agrowisata Lebah Etno Bali, Sumandya Tepis Anggapan Profesi Petani Kurang Menjanjikan

Sumandya tampak dengan produk Madu Etno Bali.
247 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Bertani kerap dianggap profesi yang kurang menjanjikan. Bahkan cenderung dipandang sebelah mata. Bertani dikonotasikan sebagai pekerjaan kotor penuh lumpur, namun hasilnya tak membuat makmur.

Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang memicu sektor pariwisata mati suri, profesi petani jadi ‘pelarian’. Bertani menjadi pilihan terakhir. Pekerja pariwisata ‘banting stir’ menggeluti pertanian sembari menunggu ‘badai’ ini berlalu. Syukurnya, sektor ini sangat terbuka, menerima siapa saja yang ingin belajar melakukan budidaya.

Anggapan petani profesi yang kurang menjanjikan ini pun di tepis praktisi petani yang juga Founder Agrowisata Lebah Etno Bali, Dr. I Wayan Sumandya, S.Pd., M.Pd. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPMI mengatakan, bertani juga bisa sukses kendati di tengah pandemi.

“Bertani bisa bertahan di berbagai kondisi dan situasi. Termasuk juga di masa pandemi. Bahkan jika kita fokus, tulus, lurus, dan memiliki tekad bulat, kita pasti bisa sukses,” tuturnya di Denpasar, Rabu (15/9).

Sumandya asal Banjar Cengkok, Baha, Mengwi, Badung, Bali ini telah membuktikan langsung bahwa menggeluti pertanian dengan tekun mengantarkan dirinya menjadi petani sukses. Ayah dua anak ini sukses melakukan budidaya lebah melalui usaha yang dia beri nama Agrowisata Lebah Etno Bali.

“Agrowisata Lebah Etno Bali ini saya dirikan pada 27 April 2020. Tujuan awalnya, untuk meningkatkan produksi madu di Bali. Namun ketekunan saya rupanya berbuah manis. Hasilnya sudah saya pasarkan. Tak hanya madu, tapi juga berbagai produk budidayanya,” ungkap dosen muda ini.

Menurutnya, usaha yang didirikan ini tidak sekadar mencari keuntungan semata. Dia juga mengedukasi masyarakat dari desa ke desa dengan mengadakan workshop.

Bahkan di tengah arus digitalisasi ini, Sumandya juga memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi masyarakat. Karena budidaya lebah madu ini, memiliki berbagai dampak positif bagi pertanian.

“Saya ingin mengajak dan memberikan pemahaman secara ilmiah tentang madu kepada masyarakat. Karena selain mendapatkan madu, memelihara lebah memiliki keuntungan lain seperti membantu penyerbukan tanaman yang ada di sekitar secara alami. Penggunan pestisida juga menjadi menurun karena dapat mengganggu produktivitas lebah itu sendiri,” bebernya.

Dia menjelaskan, Agrowisata Lebah Etno Bali fokus di bidang pengembangan lebah dengan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan produksi madu. Bahkan, juga bekerja sama dengan para petani atau peternak lebah di seluruh Bali dengan konsep hilirisasi.

“Artinya dari beberapa desa pedalaman di Bali yang memiliki potensi dibina dan madu hasil panennya disalurkan untuk dipasarkan,” jelasnya.

Dia menambahkan, Agrowisata Lebah Etno Bali telah menghasilkan produk yakni Madu Etno Bali dan telah dipasarkan ke seluruh Bali. Madu Etno Bali setidaknya terdapat tujuh cabang di Bali. Diantaranya di Petang, Mengwi, Ungasan, Tabanan, Singaraja, Denpasar, dan Klungkung.

“Setiap cabang menyediakan berbagai kebutuhan dalam budidaya lebah, diantaranya vegetasi lebah, alat-alat panen seperti baju, topi, mesin sedot, kotak/stup dan topping koloni, koloni lebah, dan madu lebah. Semua tersedia dengan kualitas terbaik dan harga sama di seluruh cabang,” tandasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.